Faktor Penyebab Terjadinya Pemberontakan PKI Madiun, DI/TII, G30S/PKI, ANDI AZIZ, APRA, RMS, PRRI, PERMESTA dan BFO
Nama : Diana Rizda
Wijaya
Kelas : XII MIPA 2
No.absen: 12
Menganalisis
tentang "Faktor Penyebab Terjadinya Pemberontakan PKI Madiun, DI/TII,
G30S/PKI, ANDI AZIZ, APRA, RMS, PRRI, PERMESTA dan BFO".
1.Pemberontakan PKI Madiun
Latar Belakang
Pemberontakan PKI Madiun
Ada banyak sekali partai-partai yang bermunculan setelah
adanya proklamasi gerakan kemerdekaan, partai-partai tersebut dibentuk dan
memiliki kadernya tersendiri. Baik itu dari golongan sosialis maupun partai
yang berasal dari golongan kiri. Sedangkan titik awal mulanya terbentuknya
partai komunis alias PKI adalah karena adanya penandatanganan dan pengesahan
perjanjian Renville. Dimana Indonesia sangat tidak diuntungkan dengan adanya
perjanjian tersebut.
Ini yang melatarbelakangi adanya jatuhan dan penetapan mosi tidak
percaya pada Januari 1948 untuk kabinet Amir Syariffudin. Oleh karena itu
akhirnya Amir berpindah menjadi sebuah partai oposisi. Hingga pada tanggal 26
Februari 1948, partai oposisi dari Amir ini kian diperkuat keberadaanya. Bahkan
ada banyak kelompok kiri yang tergabung didalamnya beserta penggabungan dengan
Partai Sosialis Indonesia atau PSI dan Pemuda SOsialis Indonesia alias Pesindo.
Sedangkan kelompok kiri ini sendiri berasal dari Patuk,Jateng yang terdiri dari
golongan pasukan militer dan masyarakat sipil yang dinamai Kelompok Diskusi
Patuk.
Asal Terjadinya
Pemberontakan PKI Madiun
Dengan ini, maka dimulailah adanya aksi saling culik menculik dan
banyak peristiwa berdarah.kala itu banyak sekali korban seperti dari perwira
polisi, pemimpin agama, perwira TNI dan anggota pompes di Madiun dan sekitar
yang menjadi korban kekejaman dan penculikan. Bahkan RM Suryo yang menggunakan
mobil Gubernur Jatim RM Ario Soerjo beserta 2 kawanan mobil polisi kembali
dihadang dan dicegat oleh massa pengikut PKI di daerah Ngawi pada tanggal 10
September 1948. Bahkan mereka dibunuh dan ketiga orang mayat tersebut dibuang
ke dalam hutan seperti tujuan berdirinya PKI.
Beberapa tokoh yang
menjadi salah satu di daftar korban yakni : Kol. Marhadi
Penyebab Pemberontakan PKI Madiun
Akibat adanya pidato yang dilancarkan oleh Soekarno maka
pemberontakan tak lagi dapat dielakkan. Konflik bersenjata kemudian terpicu dan
mulai pecah seperti tujuan berdirinya PKI. Dimana peristiwa ini dinyatakan
sebagai peristiwa Madiun atau Madiun Affairs dan dinyatakan sebagai
pemberontakan PKI pada masa orde baru.
1. Keputusan
Perjanjian Renville
Jika kita mengkaji apa sebenarnya penyebab dan seluk beluk yang
melatarbelakangi masalah timbulnya konflik bersejata di Madiun, maka jawaban
dasarnya adalah perjanjian Renville. Dimana Belanda dianggap menjadi pihak yang
paling diuntungkan dan pihak Amir kemudian menjadi jatuh dan banyak sekali
rakyat atau petinggi yang menyalahkan Amir, dimana kala itu Amirlah yang
menjadi bagian Indonesia sebagai perwakilan.
2. Pembentukan FDR
Amir yang kala itu telah memberikan mandat kepada pemerintahan
menjadi bagian dari partai oposisi di kabinet susunan Hatta, Kemudian Amir
menyususn sebuah front demokrasi rakyat atau yang dikenal dengan istilah FDR.
ini adalah golongan yang menyatukan komunis dan golongan sosialis kiri. bahkan
dengan adanya pembentukan ini, makin banyak hal negatif yang terjadi dan ini
menyebabkan banyaknya masalah di RI. Karena mereka memang mencoba membuat
sebuah gerakan baru dan berniat menggantikan sistem pemerintahan RI kala itu.
3. Menyerang Kawanan
Buruh
Bahkan kelompok ini dnegan sigap melakukan gerakan yang berdampak
buruk, dimana mereka menghasut kamun buruh agar bisa melakukan aksi mogok kerja
dan ini akan menjadi salah satu pengecaman ekonomi pada tanggal 5 Juli 1948 di
daerah pabrik karung Delangu. Hingga akhirnya kawanan buruh yang terhasut
banyak mengikuti gerakan PKI dan juga ditambah dengan para petani yang juga
ikut termakan hasutan mereka.
4. Perebutan Pimpinan
Kekuasaan RI
Salah satu penyebab pemberontakan lainnya adalah dnegan adanya
Musso sebagai pemimpin PKI yang nyatanya memang ingin berusaha merebut kursi
pimpinan pemerintahan RI dan membuat partai komunis menguasai daerah RI. Diman
kala itu mereka berusaha untuk memunculkan sebuah skema dan menginginkan
deklarasi pemerintahan Indonesia yang menganut faham komunis
5. Munculnya Doktrin
Baru
Dengan ini, Musso menyatakan sebuah doktrin dan polituk baru
dinamakan jalan baru. Diman ia mengembangkan doktrin tersebut dikalangan partai
buruh, partai sosialis dan yang lainnya sebagai anggota PKI. Bahkan ia dan Amir
kala itu mendeklarasikan pimpinan dibawah tangannya dan Amir. Mereka bahkan
memporak porandakan kepercayaan dengan melakukan penghasutan dan membuat semua
golongan menjadi bermusuhan dan mencurigai satu sama lain.
6. Penolakan
Rasionalisasi Kabinet Hatta
Gerakan ini kian menjadi dan bahkan kabinet yang disusun oleh
Hatta juga mendapat serangan dari PKI. Dimana kabinet tersebut kala itu tetap
melakukan rasionalisasi dan reorganisasi.
2.DI/TI
Kronologi Pemberontakan DI/TII
Kronologi DI/TII atau juga disebut Negara Islam Indonesia pertama
kali diproklamasikan oleh Kartosuwiryo. Yang kemudian daerah lain di Indonesia
mulai menyatakan diri bergabung dengan DI/TII Jawa Barat. DI/TII sendiri merupakan
suatu pemberontakan terbesar di Indonesia. Dan mulai muncul diberbagai
daerah dan mendukung terhadap tindakan Kartosuwiryo yang mendirikan negara
berdasarkan Islam. Diatantara nya daerah yang mulai bergabung adalah Aceh, Jawa
Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.
Dan saat itu pemerintah Indonesia yang baru merdeka, selain itu
juga harus menghadapi Belanda yang datang ingin menjajah kembali
Indonesia juga harus menghadapi pergolakan internal melawan tentara DI/TII.
Cara yang ditempuh beraneka ragam, dari awalnya diplomasi dan kemudian
mengirimkan misi militer. Oleh karena itu untuk menjaga integrasi bangsa.
Sehingga berbagai cara yang dilakukan dalam rangka menumpas gerakan DI/TII.
Karena DI/TII memiliki tujuan untuk menjadikan Republik Indonesia
sebagai sebuah Negara yang menerapkan dasar Agama Islam sebagai dasar Negara.
Dan dalam proklamasinya tertulis bahwa “Hukum yang berlaku di Negara Islam
Indonesia adalah Hukum Islam” atau lebih jelasnya lagi, di dalam undang-undang
tertulis bahwa “Negara Berdasarkan Islam” dan “Hukum tertinggi adalah Al Qur’an
dan Hadist”. Proklamasi Negara Islam Indonesia (NII) menyatakan dengan tegas
bahwa kewajiban Negara untuk membuat undang-undang berdasarkan syari’at Islam,
dan menolak keras terhadap ideologi selain Al Qur’an dan Hadist, atau yang
sering mereka sebut dengan hukum kafir.
Dan dalam perkembangannya, Negara Islam Indonesia ini menyebar
sampai ke beberapa wilayah yang berada di Negara Indonesia terutama Jawa Barat,
Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Tapi setelah
Sekarmadji ditangkap oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan dieksekusi pada
tahun 1962, gerakan Darul Islam tersebut menjadi terpecah. Akan tetapi,
meskipun dianggap sebagai gerakan ilegal oleh Negara Indonesia, pemberontakan
DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) ini masih berjalan meskipun dengan
secara diam-diam di Jawa Barat, Indonesia. Dan pada Tanggal 7 Agustus 1949, di
sebuah desa yang terletak di kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo mengumumkan bahwa Negara Islam
Indonesia telah berdiri di Negara Indonesia, dengan gerakannya yang disebut
dengan DI (Darul Islam) dan para tentaranya diberi julukan dengan sebutan TII
(Tentara Islam Indonesia). Gerakan DI/NII ini dibentuk pada saat provinsi Jawa
Barat ditinggalkan oleh Pasukan Siliwangi yang sedang berhijrah ke Jawa Tengah
dan Yogyakarta dalam rangka melaksanakan perundingan Renville. Dan saat pasukan
Siliwangi tersebut berhijrah, kelompok DI/TII ini dengan leluasa melakukan
gerakannya dengan merusak dan membakar rumah penduduk, membongkar jalan kereta
api, serta menyiksa dan merampas harta benda yang dimiliki oleh penduduk di
daerah tersebut. Namun, setelah pasukan Siliwangi menjadwalkan untuk kembali ke
Jawa Barat, kelompok DI/TII tersebut harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi.
Kepanjangan DI/TII
Kepanjangan dari DI/TII) yaitu DI (Darul Islam) dan para
tentaranya diberi julukan dengan sebutan TII (Tentara Islam Indonesia).gerakan
DI/TII ini disebut juga dengan Negara Islam Indonesia pertama kali
diproklamasikan oleh Kartosuwiryo.
Dampak Pemberontakan DII/TII
Gerakan dari DI/TII ini juga mempunyai dampak bagi pemerintah
indonesia yaitu pada kehidupan masyarakat Maros terutama di daerah
operasi, sangat merasakan dampak kehadiran DI / TII . Karena gerombolan DI /
TII sering melakukan perampokkan, penculikan, dan pembakaran rumah-rumah
masyarakat Maros.dan pemberontakan DI / TII di Indonesia,yang memiliki latar
Belakang, Penyebab, dan Tujuan yaitu untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara
Islam Indonesia (NII),
Tentara Islam Indonesia ( TII ) atau biasa disebut dengan DI
(Darul Islam) adalah sebuah gerakan politik yang didirikan pada tanggal 7
Agustus 1949 (12 syawal 1368 Hijriah) oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di
sebuah desa yang berada di kota Tasikmalaya, Jawa Barat.Dampak dari
pemberontakan DI / TII telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Karena aksi
penculikan terutama dialamatkan pada tokoh masyarakat yang berpengaruh di suatu
kampung dengan harapan menjadi kaki tangan DI / TII dalam gerakan tersebut.–
Pemmeritah juga melakukan upaya untuk melalui Tentara Indonesia untuk
menumpas segala jenis pemberontakan yang berhubungan dengan Darul Islam.
Upaya Penumpasan Pemberontakan DI/TII
Setelah banyak
pemberontakan Pada akhirnya pemerintah RI berupaya menyelesaikan pemberontakan
dengan cara damai dengan membentuk komite yang dipimpin oleh Moh. Natsir, namun
gagal. Maka dilakukan operasi militer yang dinamakan Operasi Bharatayudha. Dan
akhirnyaKartosuwiryo tertangkap di Gunung Salak Majalaya pada tanggal 4 Juni
1962 melalui operasi Bharatayudha dengan taktik Pagar Betis yang dilakukan oleh
TNI dengan rakyat.Dan Pagar Betis merupakan pelibatan masyarakat dalam
mempersempit gerakan DI/TII.
Karena adanya semangat untuk jihad,
Daerah yang mendukung
untuk bergerilya, fokus tentara Indonesia terpecah untuk menghadapi Belanda,
sebagian rakyat bersimpati terhadap perjuangan Kartosuwiryo. Namun pada akhirnya
Kartosuwiryo ditangkap dan kemudian dijatuhi hukuman mati.
Penyebab Terjadinya Pemberontakan DI/TII
- Di Jabar :
penyebab khusus :
Kartosuwiryo yang menolak hasil perjanjian reville
penyebab umum :
keinginan kartosuwiro untuk mendirikan negara islam indonesia
- Di Aceh :
diturunkannya status
wilayah aceh dari kesultanan menjadi keresidenan
- Di Sulawesi Selatan :
ditolaknya pasukan
yang dipimpin kahar muzakar menjadi tentara
3.G30S/PK
Latar belakang terjadinya G30S/PKI
Peristiwa G30S PKI yang dikenal juga dengan nama Gerakan 30
September, Gestapu atau Gerakan September Tiga Puluh, dan Gestok atau Gerakan
Satu Oktober, adalah suatu peristiwa pemberontakan yang terjadi pada malam hari
di tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965. Peristiwa ini menelan korban
jiwa dari tujuh perwira tinggi dari militer Indonesia dan beberapa orang lain
yang juga kehilangan nyawa karena usaha kudeta terhadap pemerintahan Presiden
Soekarno ini. Dalang dibalik peristiwa ini adalah Partai Komunis Indonesia yang
sudah menjadi bagian dari sejarah partai politik Indonesia sejak tahun
1914.Pemberontakan – pemberontakan sebagai Latar Belakang G30S PKI sebenarnya
telah dimulai jauh sebelum ini yaitu pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun
pada tahun 1948 dengan memproklamasikan Soviet Republik Indonesia. Kejadian ini
berhasil ditumpas oleh TNI pada 30 September 1948. Selain itu, masih ada banyak
kekacauan yang diakibatkan oleh pemogokan organisasi – organisasi yang berada
di bawah PKI, aksi – aksi kekerasan dari ormas PKI di berbagai wilayah dengan
berbagai jargon politik bernada kekerasan seperti “Ganyang Nekolim”, “ Ganyang
Kabir”, “Ganyang Tujuh Setan Kota” dan lain sebagainya hingga mencapai
puncaknya pada peristiwa G30S PKI.
Latar Belakang G30S PKI
Kondisi ekonomi yang merosot di masa Demokrasi Terpimpin
telah menjadi lahan yang subur untuk pertumbuhan sejarah PKI dengan menyasar
rakyat miskin untuk menjadi target propaganda politik mereka. Tujuan organisasi
PKI adalah untuk mendirikan negara komunis di Indonesia dengan berbagai cara.
Pada masa itu Angkatan Darat muncul sebagai organisasi militer pejuang yang sekaligus
mengemban tugas kemasyarakatan, sehingga juga memiliki peran dalam bidang
politik dan ekonomi.
Salah satunya ketika Angkatan Darat ditugaskan untuk memimpin
banyak perusahaan asing yang diambil alih pemerintah untuk alasan
nasionalisasi. PKI tidak menyukai kebijakan tersebut sehingga mereka menjuluki
para perwira sebagai Kabir, yaitu Kapitalis Birokrat. Ketika itu ada tiga
kekuatan besar dalam pemerintahan yaitu Angkatan Darat, PKI dan Presiden.
Beberapa peristiwa
yang menjadi latar belakang G30S PKI adalah :
1.Pembentukan Angkatan
Kelima
PKI yang merasa kekuatan militernya masih sangat lemah ketika
menghadapi Angkatan Darat sangat berkepentingan untuk membentuk Angkatan Kelima
yang terdiri dari buruh dan para petani yang dipersenjatai. Pembentukan Angkatan
Kelima ini adalah gagasan Menlu Cina Chou En-Lai ketika mengunjungi Jakarta
pada tahun 1965, dan menjanjikan akan memasok 100 ribu pucuk senjata untuk
Angkatan Kelima. Gagasan itu menjadi alasan bagi pemimpin PKI dalam memperkuat
pertahanan dan terus mendesak pembentukan Angkatan Kelima tersebut, yang
ditolak oleh Angkatan Darat. Begitu juga dengan Laksamana Muda Martadinata yang
menolak atas nama Angkatan Laut. Angkatan Kelima hanya akan diterima jika
berada dibawah komando ABRI.
2. Nasakom
Ideologi Nasakom adalah salah satu faktor dalam latar
belakang G 30 S PKI dan menjadi bagian dari sejarah G30S PKI lengkap. PKI
atau Partai Komunis Indonesia adalah partai komunis terbesar di dunia selain
Tiongkok dan Uni Soviet. Anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta orang pada tahun
1965, dan 3 juta orang lagi dari organisasi pergerakan pemudanya. Selain itu,
masih ada beberapa organisasi yang diawasi dan dikontrol oleh PKI seperti
pergerakan Serikat Buruh yang memiliki 3,5 juta anggota serta Barisan Tani
Indonesia dengan 9 juta anggota juga merupakan bagian dari PKI, begitu juga
dengan organisasi pergerakan wanita bernama Gerwani, organisasi penulis, artis,
dan juga pergerakan para sarjana yang membuat PKI memiliki lebih dari 20
juta anggota serta pendukung.
Ketika pada Juli 1959
parlemen dibubarkan dan Soekarno mengeluarkan ketetapan konstitusi berupa
dekrit Presiden, ia mendapat dukungan penuh dari PKI. Angkatan bersenjata
diperkuat dengan mengangkat jendral – jendral militer ke posisi yang penting,
dengan sistem Demokrasi Terpimpin. Sambutan PKI untuk Demokrasi Terpimpin
sangat baik dan menganggap bahwa Soekarno mempunyai mandat untuk persekutuan
konsepsi antara pendukung Nasionalis, Agama dan Komunis atau NASAKOM. Angkatan
Darat menolak ideologi NASAKOM tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Jenderal
Ahmad Yani
3. Konfrontasi
Malaysia
Malaysia sebagai negara federasi yang beru terbentuk pada tanggal
16 September 1963 merupakan salah satu faktor penting dalam latar
belakang G 30 S PKI. Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia
mendekatkan Soekarno dengan PKI sehingga dapat menjelaskan mengapa para tentara
menggabungkan diri dalam gerakan 30 S/ Gestok, dan juga menjadi penyebab PKI
menculik para tentara petinggi Angkatan Darat. Terjadinya demonstrasi anti
Indonesia di Kuala Lumpur yang menyebabkan PM. Malaysia Tunku Abdul Rahman
menginjak – injak lambang Garuda karena dipaksa para demonstran menyebabkan
kemurkaan Soekarno.
Ia kemudian menyerukan
pembalasan dendam dengan slogan “Ganyang Malaysia” dan memerintahkan Angkatan
Darat untuk melakukannya. Letjen Ahmad Yani tidak ingin melawan Malaysia yang
masih mendapat bantuan Inggris karena menganggap tentara tidak memadai untuk
berperang dalam skala itu. Sedangkan Kepala Staf TNI AD A.H. Nasution
menyetujuinya karena khawatir isu Malaysia akan dimanfaatkan PKI untuk
memperkuat posisinya di bidang politik Indonesia.
Pada saat itu Angkatan
Darat berada dalam posisi yang serba salah karena tidak yakin akan menang
melawan Inggris, namun di sisi lain mereka akan menghadapi kemurkaan Soekarno
jika tidak berperang. Keragu – raguan ini menghasilkan peperangan yang setengah
hati di Kalimantan dan mengalami kegagalan, padahal ini adalah operasi gerilya
dimana tentara Indonesia sangat mahir melakukannya. Kekecewaan Soekarno karena
tidak didukung tentara membuatnya mencari dukungan kepada PKI yang memanfaatkan
kesempatan itu untuk keuntungannya sendiri.
Selain itu, Angkatan
Darat juga menolak adanya poros Jakarta-Phnom Penh-Peking-Pyongyang yang hanya
akan membantu Cina memperluas semangat revolusi komunis di kawasan Asia
Tenggara sehingga dapat merusak hubungan baik dengan negara – negara tetangga.
Penolakan itu diwujudkan dalam bentuk seminar di Gedung Seskoad Bandung yang
dihadiri oleh delapan Jenderal yaitu Rachmat Kartakusumah, J. Mokoginta,
Suwarto, Jamin Ginting, Suprapto, Sutoyo, M.T. Haryono dan S. Parman pada 1 – 5
April 1965 yang menghasilkan doktrin strategis politis Angkatan Darat yang
dinamakan Tri Ubaya Cakti.
4. Pembantaian Para
Perwira TNI
Pembunuhan para perwira Angkatan Darat adalah puncak dari latar
belakang G30S PKI. Situasi politik Indonesia yang genting pada sekitar bulan
September 1965 memunculkan isu adanya Dewan Jenderal yang mengindikasikan ada
beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas kepada Soekarno dan berniat
untuk menggulingkan pemerintahannya. Inilah yang memicu peristiwa G30S/PKI
Soekarno disebut – sebut menanggapi isu ini dengan memerintahkan pasukan
Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa para jenderal tersebut untuk diadili, akan
tetapi dalam prosesnya konon beberapa oknum pasukan yang terbawa emosi justru
melepaskan tembakan sehingga membunuh keenam petinggi TNI AD.
TNI AD tersebut yaitu
Letjen Ahmad Yani (Kastaf Komando AD), Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II
Menteri), Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri), Mayjen TNI
Siswondo Parman (Asisten I Menteri), Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan
(Asisten IV Menteri), Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman),
juga membunuh Ade Irma Suryani putri dari Jendral Abdul Harris Nasution
yang selamat dari serangan tersebut dan menewaskan ajudannya, Lettu CZI Pierre
Andreas Tendean. Para korban yang dibuang ke Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta
ditemukan pada tanggal 3 Oktober.
Selain itu ada
beberapa orang lain yang juga menjadi korban yaitu Bripka Karel Sasuit Tubun
(pengawal di kediaman resmi Wakil PM II dr. J. Leimena), Kolonel Katamso
Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta) dan Letkol Sugiyono
Mangunwiyoto (Kastaf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta). Ketahui juga mengenai
sejarah lubang buaya, dan sejarah hari kesaktian pancasila.
Faktor Penyebab Pemberontakan G30S/PKI
1) pada masa presiden
Soekarno , ideologi NASAKOM diberlakukan secara seimbang , ideologi NASAKOM
adalah ideologi nasionalis , ideologi agamis dan ideologi komunis , karena
diberlakukan secara seimbang akibatnya komunis merasa punya angin segar , dan
ahirnya komunis ingin menguasai indonesia dengan memberlakukan hanya ideologi
komunis yang berlaku
atau dengan kata lain
PKI ingin mengubah ideologi nasional (pancasila) menjadi ideologi komunis
2) sementara itu
menurut versi orde baru , PKI mengarang cerita bahwa dewan jendral hendak
melakukan kudeta terhadap presiden Soekarno .maksud dari isu yang disebarkan
PKI agar rencana dia untuk mengganti ideologi berjalan lancar
2 hal tersebut yang
melatar belakangi terjadinya pemberontakan G30S/PKI
(gerakan tanggal 30
september oleh Partai Komunis Indonesia).
4. Andi Aziz
Latar
Belakang Pemberontakan Andi Aziz
Pemberontakan Andi Azis merupakan upaya perlawanan
yang dilakukan oleh Andi Azis, yakni seorang mantan perwira KNIL. Kala itu, ia
berusaha untuk mempertahankan keberadaan Negara Indonesia Timur (NIT) karena
enggan bergabung dengan NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Andi Azis berpendapat bahwa para perwira APRIS harus
bertanggung jawab atas gangguan keamanan yang terjadi di NIT, sebab menurut
Azis, pemerintah adalah dalang dari gangguan tersebut.
Pemberontakan ini terjadi di Ujungpandang, Makassar
pada 5 April 1950 diawali dengan konflik Sulawesi Selatan pada bulan yang
sama. Konflik ini terjadi karena adanya ketegangan antara masyarakat yang
pro federal dan yang anti federal.
Sehingga, pada 5 April 1950, Pemerintah Indonesia
mengutus pasukan TNI dari Jawa untuk mengamankan daerah tersebut. Tetapi,
kedatangan TNI ini dianggap mengancam kelompok masyarakat yang pro federal.
Akhirnya, masyarakat yang pro federal ini bergabung di bawah komando Andi Azis
dan membentuk pasukan bernama “Pasukan Bebas.”
Tujuan Pemberontakan Andi Aziz
Secara
umum, tujuan ini bertujuan untuk mempertahankan NIT. Dalam aksinya, Andi Azis
tidak bergerak sendiri, tetapi dibantu juga oleh Sultan Hamid II (dalang
pemberontakan APRA) dan Belanda.
Upaya Pemerintah Menumpas Pemberontakan Andi Aziz
Dalam
memberantas pemberontakan ini, Pemerintah Indonesia melakukan beberapa upaya,
yakni:
Pada
8 April 1950, Pemerintah Indonesia memberikan ultimatum yang isinya
memerintahkan Andi Azis untuk segera melaporkan diri dan mempertanggungjawabkan
perbuatannya ke Jakarta dalam waktu 4 x 24 jam.Andi Azis diperintahkan untuk
menarik semua pasukannya dan menyerahkan semua senjata, serta membebaskan para
tawanan.
Nyatanya,
semua ultimatum di atas tidak dipenuhi oleh Andi Azis. Untuk itu, Pemerintah
Indonesia pun mengirim pasukan TNI di bawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang.
Pertempuran pun terjadi pada tanggal 26 April 1950.
Dalam
waktu singkat, pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh TNI di bawah pimpinan
Kolonel Alex Kawilarang. Andi Azis pun ditangkap dan diadili di Yogyakarta.
Nah, ternyata Quipperian, setelah diusut, pemberontakan ini didalangi oleh Dr.
Soumokil, yakni dalang Pemberontakan RMS.
Nasib Negara Indonesia Timur
Pada
kala itu, ada beberapa dampak Pemberontakan Andi Azis yang juga akhirnya
membentuk nasib Negara Indonesia Timur. Apa saja?
Ir.
P. D Diapri, Perdana Menteri NIT kala itu mengundurkan diri karena tidak setuju
dengan pemberontakan Andi Azis.Ir. Putuhena diangkat menggantikan Ir. Diapri.
Ia merupakan tokoh yang pro republik.Sukawati, Wali Negara NIT, pada 21 April
1950 mengumumkan jika NIT bersedia untuk gabung dengan NKRI.
Faktor Penyebab Munculnya Pemberontakan Andi Aziz:
Menuntut
agar pasukan bekas KNIL saja yang bertanggung jawab atas keamanan di Negara
Indonesia Timur.
- Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
- Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
5.APRA
Latar Belakang
Jadi peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh
APRA ini meletus pada 23 Januari 1950 di Bandung. Pada saat itu APRA melakukan
serangan dan menduduki Kota Bandung.Latar belakang pemberontakan APRA ini
dipicu oleh adanya friksi dalam tubuh Angkatan Perang Republik Indonesia
Serikat (APRIS). Friksi yang terjadi itu antara tentara pendukung unitaris
(TNI) dengan tentara pendukung federalis (KNIL/KL).Pemberontakan APRA ini
menjadi tragedi politik dan ideologis nasional, tepatnya di masa perjuangan
Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. APRA sendiri dipimpin oleh
Raymond Westerling dan memiliki 800 serdadu bekas KNIL. Gerakan yang dipimpin
oleh Raymond Westerling ini berhasil mengusai markas Staf Divisi Siliwangi,
sekaligus membunuh ratusan prajurit Divisi Siliwangi.
Setelah mengusasi Siliwangi, Westerling bekerja
sama dengan Sultan Hamid II merencanakan untuk menyerang Jakarta. Tujuannya
adalah untuk menculik dan membunuh menteri-menteri Republik Indonesia Serikat
(RIS) yang saat itu tengah bersidang. Tapi usaha yang direncanakan oleh
Westerling itu bisa digagalkan . Semuanya itu berkat pasukan APRIS. APRIS
mengirimkan kesatuan-kesatuannya yang berada di Jawa Tengah dan di Jawa Timur.
Perdana Menteri RIS pada waktu itu Drs. Moh. Hatta, melakukan perundingan
dengan Komisaris Tinggi Belanda dalam merespon hal tersebut.
Berkat perundingan yang diadakan oleh Drs. Moh. Hatta
dengan Komisaris Tinggi Belanda, akhirnya Mayor Jenderal Engels yang merupakan
Komandan Tinggi Belanda di Bandung, mendesak Westerling untuk meninggalkan Kota
Bandung. Berkat hal itu, APRA pun berhasil dilumpuhkan oleh pasukan APRIS.
Faktor pemberontakan APRA
APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) adalah
milisi bersenjata yang didirikan oleh bekas perwira KNIL (Tentara Hindia
Belanda), Raymond Westerling.Nama APRA ini diambil dari ramalan Jayabaya
tentang pemimpin yang akan datang membawa keadilan dan kesejahteraan di Jawa.
Anggota milisi ini kebanyakan direkrut dari bekas prajurit KNIL, terutama dari
prajurit Regiment Speciale Troepen (Regimen Pasukan Khusus). Jumlah tentara
APRA pada tahun 1950 berjumlah sekitar 2000 orang.
APRA tidak menyetujui rencana pembubaran
negara-negara bagian bentukan Belanda yang menyusun Republik Indonesia Serikat
(RIS), yang merupakan hasil konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun
1949.Dengan bekerjasama dengan Sultan Pontianak, Sultan Hamid II yang beraliran
federalis, APRA dan Westerling mencoba melakukan kudeta pada Januari 1950.
APRA berupaya mempertahankan negara federal RIS
saat sebagian besar negara bagian RIS ingin membubarkan diri dan bergabung
kembali dengan Republik Indonesia. Kudeta ini juga merupakan upaya mantan
tentara KNIL untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaanya.APRA melancarkan
kudeta di Bandung dan berhasil menguasai kota itu. Westerling berusaha
menguasai Jakarta dan membunuh pemimpin republik saat itu. Setelah gagal
menguasai Jakarta, kudeta ini digagalkan dan Westerling akhirnya harus kabur ke
Singapura.
6.RMS
Latar Belakang Terjadinya
RMS
Pada tanggal 25 April 1950 telah terjadi sebuah proklamasi tentang
berdirinya Republik Maluku Selatan yang kala itu diproklamasikan oleh sekelompok
orang yang notabene merupakan mantan KNIL dan masyarakat Pro-Belanda.Diantara
orang-orang tersebut antara lain adalah Dr.Christian Robert Steven Soumokil,
Andi Aziz dan Westerling.
Pemberontakan yang mereka lakukan ini merupakan bentuk ketidakpuasan
atas kembalinya Republik Indonesia Serikat ke Negara kesatuan Republik
Indonesia.Pemberontakan ini diwarnai dengan unsur KNIL atau het koninklijke
Nederlanda(ch) atau secara harfiah merupakan tentara kerajaan Hindia Belanda
yang merasa tidak puas karena status mereka yang tidak jelas.Kala itu atas
keberhasilan APRIS mengatasi keadaan, menyebabkan banyak masyarakat yang
semangat atas kembalinya Republik Indonesia Serikat ke dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.Di tengah upaya untuk mempersatukan dari keseluruhan wilayah
Indonesia ini, ada berbagai teror dan intimidasi yang mengancam
masyarakat.Beberapa teror tersebut antara lain adalah dipimpin oleh seorang
Kapten bernama Raymond Westerling.Dengan dibantu oleh anggota polisi dan
pasukan KNIL yang merupakan bagian dari Korp Speciale Troepen yang bertempat di
Batujajar, Bandung, Jawa Barat ini melakukan aksi teror.Bahkan teror yang
dilakukan di Bandun ini hingga menelan korban jiwa. Dalam aksi teror tersebut
telah terjadi pembunuhan dan penganiayaan.Akibat dari teror tersebut, benih
sparatis atau keinginan untuk memisahkan diri pun akhirnya muncul. Beberapa
birokrat pemerintah daerah telah memprovokasi masyarakat yang berada di wilayah
Ambon.Yaitu bahwa penggabungan Ambon ke wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia akan berdampak buruk dan membahayakan masyarakat di kemudian
hari.Atas bahaya tersebut dihimbau untuk seluruh masyarakat agar tetap
berwaspada.Pada tahun 1950, tepatnya pada tanggal 20 april telah diajukan mosi
tidak percaya kepada parlemen NIT.Hal ini dengan maksud agar kabinet NIT atau
Negara Indonesia Timur meletakkan jabatannya untuk bisa bergabung ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kegagalan Andi Andul Azis mengakibatkan berakhirnya Negara
Indonesia Timur.Namun, pemberontakan tidak berhenti sampai disini.Soumokil
bersama para anggota yang mendukungnya tidak pernah menyerah untuk bisa
melepaskan wilayah Maluku Tengah dari Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.Bahkan, mereka melakukan sebuah perundingan untuk melakukan
pemberontakan bersama para anggota KNIL.Dalam perundingan yang dilakukan di
wilayah Ambon tersebut yang dihadiri oleh para pemuka KNIL, Soumokil, Ir. Manusaman
berencana untuk daerah Maluku Selatan menjadi daerah mereka.Bahkan jika perlu,
membunuh seluruh anggota dewan yang ada di Maluku Selatan agar bisa melakukan
proklamasi kemerdekaan di wilayah yang disebutkan.Akhirnya pada rapat kedua,
J.Manuhutu terpaksa hadir dibawah ancaman senjata. Nah itu sekilas mengenai
penjelasan singkat latar belakang rms ataupun latar belakang terjadinya
pemberontakan rms
Tujuan Pemberontakan RMS
(Republik Maluku Selatan)
Pemberontakan ini didalangi oleh Soumokil mantang seorang Jaksa
Agung yang bermaksud untuk melepaskan wilayah Maluku dari Negara Kesatuan
republik Indonesia.Sebelum memproklamasikan Republik Maluku Selatan, Gubernur
Sembilan Serangkai yang memiliki anggota pasukan KNIL dan Partai Timur Besar
terlebih dahulu melakukan berbagai propaganda.Yang mana ini dilakukan agar
wilayah Maluku bisa terlepas dari Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Disisi lain, Soumokil telah berhasil meyakinkan masyarakat dan
membentuk kekuatan di daerah Maluku Tengah.Sementara itu orang yang tidak
mendukung dan menyatakan mendukung negara Kesatuan Republik Indonesia maka akan
diancam atau dimasukkan ke dalam penjara.Akhirnya pada tanggal 25 April tahun
1950, Republik Maluku Selatan diproklamasikan. Kala itu yang menjadi presiden
adalah J.H Manuhutu dengan perdana menteri Albert Fairisal.
Sementara beberapa menteri terpilih antara lain adalah
Mr.Dr.C.R.S Soumokil, D.j Gasperz, J.B Pattiradjawane, J.Toule, S.j,H
Norimarna, P.w Lokollo, H.f pieter, A.Nanholy, Z.Pesuwarissa dan Ir.J.A
Manusama.Sementara pada tanggal 27 April 1950 Dr.J.P nikijuluw diangkat menjadi
wakil presiden dari Republik Maluku Selatan untuk wilayah di luar negeri dan
berkedudukan di Den Haag, Belanda.Pada tanggal 3 mei 1950, Soumokil menggantikan
Manuhutui sebagai presiden Republik Maluku Selatan.Pada tanggal 9 mei 1950
dibentuk angkatan perang Republik Maluku Selatan (APMRS) yang dipimpin oleh
panglima sersan Mayor KNIL, D.J Samson.
Sedangkan untuk kepala staff dipimpin oleh sersan Mayor
Pattiwale. Beberapa anggota staff lainnya adalah sersan Mayor Aipasa, sersan
Mayor Pieter dan Sersan Mayor Kastanja.
Untuk sistem
pengangkatan atau kenaikan jabatan menggunakan sistem KNIL.
Upaya Penumpasan
Pemberontakan Republik Maluku Selatan
Pemerintah republik
Indonesia berusaha menggunakan jalan damai untuk mengatasi pemberontakan yang
terjadi di wilayah Maluku ini.Cara yang dilakukan pemerintah antara lain adalah
mengirim misi perdamaian yang dipimpin oleh tokoh asli Maluku yaitu Dr.Leimena.
Namun sayangnya upaya tersebut ditolak oleh Soumokil.
Selanjutnya, mengirimkan misi perdamaian yang terdiri dari
dokter, politikus, pendeta dan wartawan juga tidak dapat bertemu dengan
Soumokil.
Karena upaya
perdamaian tersebut ditolak, akhirnya dilakukan agresi militer untuk
membersihkan gerakan Republik Maluku selatan tersebut.
Pasukan tersebut
diberi nama Gerakan Operasi Militer III yang dipimpin oleh Kolonel A.E
Kawilarang yang kala itu menjabat sebagai Panglima tentara dan Teritorium Indonesia
Timur.
Akhirnya operasi
tersebut dimulai pada tanggal 14 Juli 1950. Sementara itu, pada tanggal 15 Juli
1950, Negara Republik Maluku Selatan Mengumumkan bahwa kondisi negara dalam
keadaan berbahaya.
Pada tanggal 28
September 1950, Pasukan GOM III menembus wilayah Ambon termasuk telah menguasai
benteng Nieuw Victoria.
Dengan jatuhnya
pasukan di Ambon, membuat Republik Maluku Selatan dapat ditaklukkan. Pusat
pemerintahan pun dipindahkan ke Pulau Seram.
Tokoh-Tokoh
Pemberontakan RMS dan Hukumannya
Pada tahun 1952,
presiden Maluku Selatan j.H Manuhutu berhasil ditangkap.sementara pimpinan
Republik Maluku Selatan Lainnya melarikan diri ke Belanda.
Tokoh-Tokoh Yang Berhasil Ditangkap pun Mendapatkan Sanksi Hukuman, diantaranya adalah sebagai berikut :
- J.H Munhutu, Presiden RMS
dihukum selama 4 Tahun
- Albert Wairisal, menjabat
sebagai Perdana Menteri Dalam Negeri dijatuhi hukuman 5 Tahun
- D.J Gasper, menjabat sebagai
Menteri Dalam Negeri dijatuhi hukuman 4 ½ Tahun
- J.B Pattirajawane, menjabat
sebagai Menteri Keuangan dijatuhi hukuman selama 4 ½ Tahun
- G.G.H Apituley, menjabat
sebagai Menteri Keuangan dijatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- T. Nussy, menjabat sebagai
Kepala Staf Tentara RMS dijatuhi hukuman selama 7 tahun
- D.J Samson, menjabat sebagai
Panglima Tertinggi Tentara RMS dijatuhi hukuman selama 10 Tahun
- Ibrahim Oharilla, menjabat
sebagai Menteri Pangan dijatuhi hukuman selama 4 ½ Tahun
- J.S.H Norimarna, menjabat
sebagai Menteri Kemakmuran dijatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- D.Z Pessuwariza, menjabat
sebagai Menteri Penerangan dijatuhi hukuman selama 5 ½ Tahun
- Dr. T.A Pattirajawane, menjabat
sebagai Menteri Kesehatan dijatuhi hukuman selama 3 Tahun
- F.H Pieters, menjabat sebagai
Menteri Perhubungan dijatuhi hukuman selama 4 Tahun.
Dampak Pemberontakan RMS
Pada tahu 1978 anggota RMS menyandera kurang lebih 70
warga sipil yang berada di gedung pemerintahan Belanda di Assen-Wesseran.Teror
tersebut juga dilakukan oleh beberapa kelompok yang berada di bawah pimpinan
RMS, seperti kelompok Bunuh Diri di Maluku SelatanDan, pada tahun 1975 kelompok
ini pernah merampas kereta api dan menyandera 38 penumpang kereta api tersebut.
Pada tahun 2002, saat peringatan proklamasi RMS yang ke 15
dilakukan, di adakan acara pengibaran bendera RMS di Maluku.Akibat kejadian
ini, 23 orang ditangkap oleh aparat kepolisian. Setelah penangkapan, mereka
tidak terima karena menganggap ini tidak sesuai hukum yang berlaku.Selanjutnya,
mereka memperadilkan Gubernur Maluku beserta Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku
karena melakukan penahanan yang di duga sebagai provokator pelaksana pengibaran
bendera RMS.
Aksi ini terus dilakukan sampai pada tahun 2004. Ratusan
Pendukung RMS mengibarkan bendera RMS di Kudamati. Akibatnya terjadi konflik
penangkapan dan konflik aktivis RMS dengan NKRI.Tidak cukup dengan aksi-aksi
tersebut, Anggota RMS kembali menunjukan keberadaan kepada masyarkat Indonesia.
Lebih parah mereka
tidak segan-segan meminta pengadilan neger Den Haag untuk menuntut Presiden SBY
dan menangkapnya atas kasus HAM.
Peristiwa paling parah terjadi tahun 2007, dimana saat itu
Presiden SBY sedang menghadiri hari Keluarga Nasional yang berlangsung di
Ambon, Maluku.
Ironisnya, saat penari
Cakalele masuk ke dalam lapangan, mereka tidak tanggung-tanggung mengibarkan
bendera RMS di hadapan Presiden SBY.
Faktor Pemberontakan RMS:
Ingin membuat Republik Maluku Serikat dengan memisahkan diri dari
Republik Indonesia, hal ini dilatar belakangi dari ketidakpuasan Mr. Christiaan
Soumokil terhadap penggabungan Maluku dengan RI, karena Soumokil anti dengan RI
7.PRRI
Latar belakang pemberontakan PRRI adalah:
- kekecewaan para perwira di
daerah atas kebijakan pemerintah pusat seperti sentralisasi
- Kedekatan dengan pemerintah
pusat PKI
- ketidak stabilan politik pada
masa demokrasi Liberal.
- Kondisi kesejahteraan prajurit
yang memprihatinkan
Penjelasan Secara
Detailnya ..
Pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera sedangkan Permesta terjadi
di Sulawesi pada tahun 1956 hingga 1958. Pada pemberontakan ini sebagian
perwira tentara di Sumatera dan Sulawesi membentuk dewan-dewan regolusi dan
merebut kekuasaan dari pemerintah pusat.
Dewan dewan ini adalah Dewan Banteng di Sumatera Barat, Dewan
Gajah di Sumatera Utara, Dewan Garuda di Sumatera Selatan dan Dewan Manguni di
Manado.Pemeberontakan ini dilandasi kekecewaan para politis dan perwira di
daerah atas kebijakan pemerintah pusat Republik Indonesia yang berbasis di
Jakarta. Pemerintah pusat dianggap terlalu mengistimewakan pulau Jawa dibanding
pulau luar. Selain itu kebijakan pemerintah pusat dianggapnterlalu sentralistis
dan tidak memperhatikan kepentingan daerah.
Selain itu, kedekatan presiden Sukarno dengan PKI juga membuat
para perwira dan poltisi di daerah tidak senang, karena mereka banyak yang
sangat anti komunis dan pro barat.
Selain itu pada masa
ini Indonesia sangat tidak stabil dalam sisi politis karena sisten Demokrasi
Liberal yang menganut pemerintahan parlementer. Pada masa ini kabinet dan
perdana menteri berkali kali ganti karena mendapat mosi tidak percaya dari
parlemen.
Pemberontakan PRRI ini bisa dilumbuhkan setelah operasi militer
yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani dan Nasution merebut kota besar basis
pendukung PRRI Permesta. Sisa pemberontak menyerahkan diri setelah pemerintah
pusat memberikan amnesti atau pengampunan pada bekas pemberontak.
8.PERMESTA
Latar Belakang Terjadinya Permesta
Perjuangan Semesta
atau Perjuangan Rakyat Semesta (Ejaan Soewandi: Perdjuangan Rakjat Semesta)
disingkat Permesta adalah sebuah gerakan militer di Indonesia. Gerakan ini
dideklarasikan oleh pemimpin militer dan sipil Indonesia bagian timur pada
tanggal 2 Maret 1957. Pusat gerakan ini mulanya berada di Makassar yang pada
waktu itu merupakan ibu kota Sulawesi. Namun perlahan-lahan dukungan di
Sulawesi Selatan mulai hilang sehingga pada 1957 markas Permesta dipindahkan ke
Manado di Sulawesi Utara. Di sini timbul kontak senjata dengan pasukan
pemerintah pusat sampai mencapai gencatan senjata pada tahun 1961.
Pemberontakan PRRI di
barat dan Permesta di timur menumbuhkan berbagai macam alasan. Utamanya bahwa
kelompok etnis tertentu di Sulawesi dan Sumatra Tengah waktu itu merasa bahwa
kebijakan pemerintahan dari Jakarta stagnan pada pemenuhan ekonomi lokal mereka
saja, di mana dalam gilirannya membatasi setiap kesempatan bagi pengembangan
daerah regional lainnya.Juga ada rasa kebencian terhadap kelompok suku Jawa,
yang merupakan suku dengan jumlah terbanyak dan berpengaruh dalam negara
kesatuan Indonesia yang baru saja terbentuk. Ketidakseimbangan terjadi karena
ajang politik Indonesia terpusat di pulau Jawa, sedangkan sumber-sumber
perekonomian negara lebih banyak berasal dari pulau-pulau lain.Efeknya konflik
ini sedikit menyoal pikiran tentang pemisahan diri dari negara Indonesia,
tetapi lebih menitikberatkan tentang pembagian kekuatan politik dan ekonomi
yang lebih adil di Indonesia.
Upaya sebelum proklamasi
Pada awal tahun 1957,
pimpinan daerah di Makassar baik dari pemerintah dan dari militer mengunjungi
Jakarta. Pada bulan Januari 1957, Letkol Muhammad Saleh Lahade dan Mayor Andi
Muhammad Jusuf Amir (M. Jusuf) bertemu dengan KASAD Jenderal Abdul Haris Nasution.Pada
waktu itu, Lahade adalah Kepala Staf Komando Pengamanan Sulawesi Selatan
Tenggara (Ko-DPSST), sedangkan M. Jusuf adalah Komandan Resimen Infanteri
Hasanuddin (RI-Hasanuddin).Kemudian pada bulan Februari, Gubernur Sulawesi Andi
Pangerang Pettarani bertemu dengan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo dan
Menteri Dalam Negeri R. Sunarjo.Pangerang mendesak pemerintah pusat untuk
mengupayakan otonomi yang lebih besar untuk daerah di Indonesia timur. Selain
otonomi yang lebih besar untuk tingkat daerah, juga pembagian pendapatan
pemerintah yang lebih banyak untuk daerah guna pelaksanaan proyek-proyek
pembangunan lokal.Sedangkan perwakilan militer dari Makassar berusaha mendesak
pimpinan TNI Angkatan Darat (TNI-AD) untuk mendukung hal-hal yang sama yaitu otonomi
daerah yang lebih besar dan pembagian pendapatan yang akan digunakan untuk
pembangunan daerah setempat. Selain itu, mereka juga meminta agar Ko-DPSST yang
berada di bawah naungan langsung dari Markas Besar TNI-AD (daripada di bawah
Tentara dan Territorium VII (TT-VII) yang bermarkas di Makassar) segera
digantikan dengan sebuah Komando Daerah Militer (KDM).
Pada akhir bulan
Februari 1957, Andi Burhanuddin dan Henk Rondonuwu sebagai delegasi dari
pemerintah Provinsi Sulawesi berangkat ke Jakarta sebagai upaya terakhir untuk
mendesak pemerintah pusat tentang hal-hal yang dibicarakan bulan sebelumnya.
Selain mereka, Panglima TT-VII Letkol Ventje Sumual juga mengunjungi Jakarta
untuk tujuan yang sama dan untuk bertemu dengan perwira-perwira yang simpatik terhadap
usaha mereka.Pada tanggal 1 Maret 1957, Sumual bersama Burhanuddin dan
Rondonuwu kembali ke Makassar karena upaya mereka tidak berhasil. Sebelumnya
pada tanggal 25 Februari 1957, telah terjadi rapat pimpinan pemerintah dan
militer di Makassar untuk merencanakan proklamasi Permesta bila tidak ada
tanggapan konkrit dari pemerintah pusat.
Proklamasi Permesta
Pada tanggal 2 Maret
1957 pukul 03.00 di kediaman gubernur di Makassar dan di hadapan sekitar 50
hadirin, Sumual memproklamasikan keadaan perang untuk seluruh wilayah TT-VII
yaitu seluruh wilayah Indonesia timur.Selanjutnya Lahade membacakan Piagam
Perjuangan Semesta atau Piagam Permesta.Pada bagian akhir piagam tersebut
mengenai "TJARA-TJARA PERDJOANGAN" dituliskan bahwa "pertama-tama
dengan mejakinkan seluruh pimpinan dan lapisan masjarakat, bahwa kita tidak
melepaskan diri dari Republik Indonesia, dan semata-mata diperdjoangkan untuk
perbaikan nasib rakjat Indonesia dan penjelesaian bengka-lai revolusi
Nasional." Piagam tersebut ditanda-tangani para hadirin. Setelah pembacaan
piagam, disusul pidato dari Gubernur Andi Pangerang yang meminta agar semua
tetap tenang dan tetap menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka
masing-masing.
Hari berikutnya,
susunan pemerintahan militer diumumkan di mana Sumual menjabat sebagai
administrator militer dengan Lahade sebagai kepala staf. Terdapat juga Dewan
Pertimbangan Pusat yang beranggotakan 101 orang dan empat gubernur militer di
bawah Sumual yaitu Andi Pangerang untuk Sulawesi Selatan dan Tenggara, Mayor
Daniel Julius (D. J.) Somba untuk Sulawesi Utara dan Tengah, Letkol Herman
Pieters untuk Maluku dan Irian Barat, dan Letkol Minggu untuk Nusa Tenggara.
Pada saat itu, Somba adalah Komandan Resimen Infanteri 24 (RI-24) yang
bermarkas di Manado, Pieters adalah Komandan Resimen Infanteri 25 (RI-25) yang
bermarkas di Ambon, dan Minggu adalah Komandan Resimen Infanteri 26 (RI-26)
yang bermarkas di Bali. Panggerang dilantik pada tanggal 8 Maret, sedangkan
Somba dilantik di Manado pada tanggal 11 Maret.
9.BFO
Indonesia masa pemerintahan federal
Latar belakang persoalan negara federal dan konferensi
pembentkan Badan Permusyawaratan Federal (BFO) pada 27 Mei 1948
dilatarbelakangi oleh sikap Belanda yang tidak mau mengakui kedaulatan Negara
Republik Indonesia, meskipun dalam hal ini Indonesia telah menyatakan merdeka
melalui Proklamasi 1945.
Kedatangan Belanda pasca proklamasi membuat haluan politik
Indonesia berubah. Jika awalnya Indonesia menyakan sebagai negara kesatuan,
maka dengan ancaman kedatangan belanda Soekarno mengubah bentuk negara kesatuan
menjadi federal yang dipimpin oleh Sjahrir. Alasannya, van Mook yang merupakan
pimpinan tidak mau berunding dengan Soekarno. Perubahan bentuk negara ini hanya
bersifat politis.
Tokoh-Tokoh
Sejak awal pembentukan
BFO terdapat tokoh-tokoh yang dominan dalam setiap rapat yang diadakan
BFO.
Tokoh Tersebut Adalah :
- Anak Agung Gde Agung (Negara
Indonesia Timur),
- R.T Adil Puradiredja
(Pasundan),
- Sultan Hamid II (Borneo Barat),
dan T. Mansoer (Sumatera Timur).
Masing-masing tokoh
memanfaatkan setiap kesempatan dalam BFO untuk mempengaruhi anggota lainnya
agar mendukung usaha dan pemikirannya. Anak Agung dan Adil Puradiredja berusaha
agar BFO mendekati RI, sedangkan Sultan Hamid II dan T. Mansoer berusaha agar
BFO tetap mengikuti rencana Belanda.
Pengelompokan-Pengelompokan Pemberontakan Sesuai Sistemnya
1.Pki Madiun :
Kepentingan
2.DI/TII
: Kepentingan
3.G30S/PKI
: Sistem Pemerintahan
4.Andi Aziz
: Kepentingan
5.APRA
: Sistem Pemerintahan
6.RMS
: Kepentingan
7.PRRI
: Sistem Pemerintahan
8.PERMESTA : Sistem
Pemerintahan
9.BFO
: Sistem Pemerintahan
Komentar
Posting Komentar